Pas tanggal publish tulisan ini, ngliat di sini, artinya sudah sekitar 7 bulan aku di pabrik yang baru. Nikmat-nikmat nggak
. Mau nikmat gimana, mau gak enak gimana. Satu hal yang pasti, kerja di sini serasa kayak bermain judi.
Why? tau sendiri kan kalo orang maen judi kayak apa. Duduk dalam satu majelis judi, beramah tamah dengan teman-temannya, saling berheha-hehe, saling bercanda dan lainnya. Padahal sejatinya, seaslinya, mereka saling bermusuhan, jegal-jegalan dalam rangka memenangkan uang yang dipertaruhkan.
Kira-kira begitu …
Luthfi Curhat judi, pabrik
Ahad pekan lalu, saya tes buat kerja di sebuah tempat jualan. Tesnya standar : tes psikologi, FDG (semacam debat kelompok gitulah), dan diakhiri dengan wawancara. Tes psikologinya sendiri macem2, terdiri dari berbagai subtes: bahasa Indonesia (hubungan antar kata, kata baku dsb), matematika (hitung2an, deret dan logika).
Pagi ini, saya tes untuk jadi reporter di kanalone.com. Tes awal sama, yaitu tes psikologi. Bedanya dengan yang hari ahad adalah hari ini seleksi awal cuman satu subtest, yaitu bahasa Indonesia (hubungan antar kata).
Begitu buka soalnya, ternyata sama dengan ahad lalu. Persis sama. Saya jawab dengan baik dan benar (sudah pengalaman njawab soal yang sama jee
). Hasilnya : GaG LoloS ke Tahap Berikutnya.
Hihhiihihihi … yayayayya … bahasa Indonesia saya memang patut dipertanyakan
. Thanks untuk Mas Ipoul Bangsari untuk tumpangan nginepnya semalem
.
Luthfi Curhat tes kerja
Pengalaman saya luntang lantung dan menjadi bajing loncat yang pindah-pindah job baru sedikit sebenarnya. Setidaknya dari sekian banyak kegiatan mburuh saya, tampaknya saya melupakan suatu hal yang sangat penting: kontrak kerja. Gara-gara melupakan ini, honor saya diembat sekitar 70%. Hmm, gara-gara melupakan ini pula, saya dipecat tanpa pesangon.
Jujur, saya sendiri kurang tahu, kontrak kerja itu harusnya inisiatif dari siapa? Pemberi kerja ataukah pencari kerja? Selama ini saya beredar di sekitar kampus. Banyak diantara teman-teman saya yang bekerja untuk dosen mereka (mengerjakan proyek-proyek dosen), dan banyak pula yang tanpa kontrak kerja yang jelas (hitam di atas putih).
Luthfi Curhat buruh, kerja, kontrak
Suatu hal yang sudah usang sebenarnya, berapa persenkah bakat berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang dalam suatu bidang. Katakanlah dalam riset-riset ilmiah di laboratorium, apakah bakat begitu berpengaruh secara signifikan terhadap hasil yang diperoleh ketika melakukan penelitian? Atau biar lebih mudahnya begini, jika data yang diperoleh jelek dan tidak memenuhi standar, apakah hal itu berarti si ‘peneliti’nya tidak mempunyai bakat untuk meneliti?
Mungkin lebih dari 68% dari anda akan mengatakan bahwa bakat tidak terlalu berpengaruh. Cenderungnya diantara kita akan mengatakan bahwa minat seseorang terhadap suatu hal, akan menyebabkan orang tersebut menekuni hal tersebut. Ujung-ujungnya tentu saja, 99% kesuksesan dalam melakukannya. Contohnya urusan blogging
Apa sih maksud tulisan ini? Ah, simpel. Barusan saya dan rekan dipecat gara-gara data-data hasil ‘riset’ kami aneh dan kami divonis tidak berbakat menjadi peneliti. Pesangon? Gak terlalu berharap, kontrak kerjapun gak ada
.
Tulisan di blog lain yang terkait : Sore yang kelam
Luthfi Curhat
Pekan lalu saya mengawas ujian S2 *sombong mode on*. Karena dari sekian banyak yang S2 sudah bapak2 dan ibu2 (dan kebanyakan adalah DOSEN dan staf instansi pemerintah) saya biarkan mereka berdiskusi waktu ujian. I think it’s ok, selama mereka gak buka buku/catatan.
Eh, sore ini mereka (sebagian dari mereka) konfirm ke saya, apakah saya lapor ke dosen tentang kegiatan diskusi waktu ujian itu. Saya jawab tidak dan sepertinya mereka tidak percaya, walaupun sudah saya jelaskan dengan detail. Akhirnya saya katakan: Kalo misal saya lapor, apakah saya salah? Salah seorang dari mereka terhenyak kaget manakala saya sudah ngomong bahwa itu adalah tanggung jawab moral mereka sebagai dosen (yang sekarang sedang belajar), sebagai staf dll.
Read more…
Luthfi Curhat, Kampus IPB, moral, nyontek, s2, sopan santun, ujian