Ringkasan Skripsi
LUTHFI ASSADAD. Pemanfaatan Limbah Karagenan Sebagai Media Kultivasi Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus). Dibimbing oleh LINAWATI HARDJITO.
Penggunaan rumput laut untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia menyebabkan berkembangnya berbagai industri rumput laut, diantaranya industri karagenan. Hasil samping dari industri ini berupa limbah yang mengandung selulosa. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan organisme yang mampu tumbuh pada media yang mengandung selulosa. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pemanfaatan limbah karagenan sebagai media pertumbuhan jamur tiram (P. ostreatus).
Penelitian ini terdiri atas tiga tahap yaitu penelitian pendahuluan, penelitian utama dan analisis kelayakan usaha. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui formulasi media kultivasi jamur tiram. Penelitian utama yaitu kultivasi ulang pada media terbaik penelitian pendahuluan. Parameter yang diamati meliputi lama inkubasi (hari), lama waktu munculnya primordia pertama (hari), bobot tubuh buah (g), jumlah tubuh buah, diameter tudung terbesar (cm) dan panjang tangkai terbesar (cm). Data yang diperoleh dianalisis dengan statistika deskriptif, sidik ragam dan uji lanjut Duncan. Jamur dari kultivasi media terbaik dianalisis kadar proksimat dan logam berat.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa limbah karagenan dapat dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan jamur tiram. Empat formula media terbaik (kode B, H, I dan M) hasil penelitian pendahuluan dipilih berdasarkan kondisi fisika-kimia media dan produktivitas jamur tiram. Formula terpilih memiliki tekstur media padat, pH 6–8 dan rasio efisiensi biologi 19,91%–25,35%.
Kultivasi ulang yang dilakukan terhadap empat media terbaik menunjukkan pH media berkisar antara 6 – 7,5; tekstur miselia lebih tebal dan bobot jamur yang dihasilkan lebih banyak dengan rata-rata rasio efisiensi biologi berkisar antara 17,25% – 28,39%. Secara umum, media perlakuan I (20% limbah karagenan, 60% serbuk gergajian dan 20% dedak) memberikan hasil yang terbaik.
Analisis proksimat menunjukkan bahwa komposisi gizi jamur tiram berada dalam kisaran yang wajar dengan nilai kadar air 81,32% (basis basah), kadar abu 8,50% (basis kering), kadar protein 35,50% (basis kering), kadar lemak 1,81% (basis kering) dan kadar karbohidrat 49,83% (basis kering). Analisis logam berat menunjukkan bahwa jamur tiram yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi dengan kandungan timbal (Pb) di bawah 0,04 ppm, kadmium (Cd) sebesar 0,01 ppm dan raksa (Hg) sebesar 3,77 x 10-3 ppm.
Analisis kelayakan usaha memberikan nilai Net Present Value Rp 6.495.120,00; Net Benefit-Cost Ratio 1,27; Internal Rate of Return 18,77% pada tingkat suku bunga 18% pertahun dan Payback Period 4,096 bulan pada umur investasi 6 bulan. Dengan demikian usaha budidaya jamur tiram menggunakan limbah karagenan layak untuk direalisasikan.
Analisis kelayakan proyek dengan asumsi rasio efisiensi biologi 50% memberikan nilai Net Present Value Rp 175.716.679,80; Net Benefit-Cost Ratio 1,73; Internal Rate of Return 19,02% pada tingkat suku bunga 18% pertahun dan Payback Period 4,78 bulan pada umur investasi 2 tahun sehingga layak direalisasikan.
